Di balik kabar konflik yang kerap memenuhi media internasional, terdapat sebuah keajaiban arsitektur yang jarang disorot: Kota Tua Sanaa. UNESCO menetapkan kawasan bersejarah ini sebagai Situs Warisan Dunia sejak tahun 1986, mengakuinya sebagai salah satu kota bersejarah paling luar biasa di dunia Arab.
Kota Tua Sanaa dihuni manusia sejak lebih dari 2.500 tahun yang lalu. Yang paling mencolok adalah bangunan menara-menaranya yang menjulang tinggi—rumah-rumah bertingkat tujuh hingga delapan lantai yang dibangun dari batu bata tanah liat (adobe) berwarna cokelat kehitaman, dihiasi ornamen gypsum putih geometris yang sangat rumit di sekeliling jendela-jendelanya.
Lebih dari 6.000 rumah bernilai sejarah tinggi tersebar di kawasan ini, bersama 103 masjid, 14 bak mandi umum tradisional (hammam), dan 20 khan (penginapan pedagang kuno). Masjid Agung Sanaa bahkan diklaim sebagai salah satu masjid pertama yang dibangun pada masa Islam awal.
Jalan-jalan berbatu di kota tua ini dipenuhi pasar (suq) yang menjual rempah-rempah, perak, kain, dan pernak-pernik tradisional. Aroma kemenyan dan kopi bercampur menjadi satu, menciptakan pengalaman sensoris yang sulit dilupakan bagi siapa pun yang pernah berkunjung.
Sayangnya, konflik yang melanda Yaman sejak 2015 telah menyebabkan kerusakan signifikan pada beberapa bangunan bersejarah ini. UNESCO dan berbagai lembaga internasional terus berjuang untuk mendokumentasikan dan melestarikan warisan tak ternilai ini sebelum terlambat. Kota Tua Sanaa adalah pengingat bahwa di balik krisis yang ada, Yaman menyimpan kekayaan budaya yang layak dijaga bersama oleh seluruh umat manusia.